Perjalanan Renjana

Kini tiba pada akhirnya, 
Kita sama sama lelah—pasrah. 

 Aku pernah mencoba berlari tanpa henti, tertatih hingga letih, Tidak peduli dengan sekitar, mengutamakan egoku yang habis ditelan sabar. 

tapi sekarang aku menyadari bahwa aku membenci segala hal yang terjadi. 

Karenanya aku belajar
Hingga akhirnya waktu membuat ku tersadar.

Sumpah, aku sudah ikhlas
dengan semua usaha yang tidak lagi kuremehkan.
Dengan semua harapan yang tidak lagi kutinggikan.
Dengan segala doa yang terus menerus aku panjatkan.

Aku ingin menjalani hari dengan tidak peduli apa yang menjadi ekspetasi, sampai aku menyadari nantinya saat ku menoleh ke belakang, ternyata aku telah berlari jauh dari yang kuperkirakan.

 Tak ada lagi kata romantis, yang tersisa hanyalah egois. Apa memang sudah saatnya berhenti, atau sebenarnya perasaan tengah mati suri?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mentari

Bingung

mata hati