Postingan

Mentari

hai, aku kembali kembali dengan segala ceria yang sempat aku persembahkan untuk sekadar melihat senyum manis itu.  aku terlalu malu untuk mengucapkan sesuatu secara blak-blakan, mungkin karna aku lebih menyukai perasaan yang di sampaikan lewat tulisan.  mentari kini kau terlihat makin bersinar, kilauan mu amat berbinar, kini pun kau masih sama.  kau berjalan dengan memakai berbagai topeng, hanya untuk bertahan hidup sedikit lebih lama. meski nyatanya kaupun sesosok rapuh yang sering mengeluh.  hanya saja kau menutupi semua itu.  mentari,  kini hari special mu, beberapa tahun lalu di hari yang sama, kamu dilahirkan dengan tangisan kecilmu.  kini kamu menyambut hari itu dengan senyuman, sertaa kebahagiaan.  sungguh amat manis anak kecil yang sering menangis jika sedang merasa terkikis, yang selalu berkata "tak apaa" kala badai melanda.  selamat,  pencapaian mu bukan tentang banyaknya teman mu, bukan tentang banyaknya bakatmu, serta bukan t...

mata hati

Hembusan angin yang begitu menyejukkan,  membawa suasana syahdu yang mengharukan.  Aku begitu rapuh. Aku hanya bisa duduk bersimpuh.  Kala aku hanya bisa menyaksikan,  begitu banyak kejadian yang mengikis kebenaran.  Hanya bisa diam terikat.  Hanya bisa berdiam diri tanpa aksi.  Semenyedihkan ini menjadi manusia yang lemah tak berisi.  Menjadi insan yang tak mampu menguatkan iman.  Menjadi objek mainan setan.  Sungguh,  Aku tak kuasa menahan sesak. Memandangi dunia yang mulai rusak.  Tetesan cairan mata yang mengalir tanpa aba aba, membuat hati merasa iba.  Berilah cahaya pada jiwa ini,  berilah cahaya pada penglihatan ini,  agar aku bisa melihat dan merasakan bahagia yang hakiki.  Aku sandarkan urusanku padamu,  yang segala mustahil tak berpengaruh padamu.  Aku berikan segalanya untuk mendapatkan bahagiamu.  —catatan kecil, hamba lemah. 

Bingung

 Di persimpangan jalan, hati mulai kebingungan serta—kesepian. Antara maju atau mundur, memandangi rencana tak terstruktur. Langkah terhenti di ambang keputusan. Di hadapkan ketidakpastian, jiwa terperangkap kebingungan. Di tengah kemelut pikiran yang kacau, dua pilihan menari dikepala bersama risau. Maju membawa risiko yang belum terukur, Mundur terasa aman, namun juga takut tersungkur. Namun di antara kebingungan, ada kekuatan, Untuk menghadapi tantangan. Maju dengan keyakinan, atau mundur dengan kebijaksanaan. Keputusan ada di tangan, jalan yang diambil adalah pilihan.

Ada yang hilang

Diantara hembusan angin yang berisik, kita mencari hal - hal tak berfisik.  Merasa ada yang hilang, dibawah langit yang luas.  Menghampiri pikir kita dalam bayang bayang yang melintas. Kisah yang terlupakan, mimpi yang sirna, menjadi pusaka nostalgia yang terpendam.  Kita mencari, kita merindu, namun tetap terdiam.  Di dalam hening, kita merenung dan bertanya, Menggali rahasia, mencari jawaban yang tersembunyi. Mungkin yang hilang adalah bagian dari kita sendiri. Atau mungkin,  Yang hilang adalah cerita yang belum terlafalkan. Menyusuri jejak-jejak yang terlupakan.  Setiap detik yang berlalu kita teliti.  Dan mengajarkan kita tentang arti kehidupan sejati.

Rumah tak bertuah

 Suasana rumah tak bertuah. Burung-burung berkicau,  aku dengarkan dalam kondisi kacau.  Kupu-kupu beterbangan,  aku pandangi sembari mengingat kenangan.  Ada apa hari ini?  Semua terasa begitu penuh kontroversi. Mulut kelu, mata sendu dan hati merindu. Sungguh, perasaan ini akan jadi perasaan yang paling kubenci.  Karenanya aku lupa akan tidurku, karenanya aku lupa akan hal - hal penting di hidupku.  Kali ini aku temukan makna lebih. Makna tentang hal-hal kecil yang membuat kita resah serta—lelah.  Kamu tahu?  Sebenarnya aku sebatas merindu, sebatas ingin merasakan hal indah yang pernah terjadi dahulu.  Kamu tahu?  Apa yang aku rasakan saat kenangan berlarian di kepalaku?  Sakit, sungguh sakit.  Bukan karna kenangannya yang buruk, namun kurasa ini takkan bisa terulang untuk kedua kalinya.  Harapanku pada tuhan,  beri aku kesempatan kedua kalinya. Aku akan berikan semua waktu, hatiku dan kisahku yang tak sem...

Diam

Ketenangan dalam keheningan.  Kau tau?  Diam mu memberikan makna yang mendalam untuk mereka yang faham.  Merenung dalam kesendirian,  menemukan keindahan bahkan kehidupan yang tak akan dapat diucapkan oleh lisan. Kau menyelami lautan pikiran, kau temukan ketenangan yang beriringan dengan kebijaksanaan. Menjelajahi jiwa, menemukan makna.  Tak banyak berbicara,  namun kata yang di ucap selalu penuh akan makna. Di tengah keramaian,  Kau mungkin terabaikan.  Namun dalam hati, kau jadi sang mentari.  Memberi hidup pada tiap-tiap hati yang redup.  Menyimak alam,  mencipta karya tanpa suara.

Laut

Di tepian pantai, dibawah langit yang membiru.  Laut yang lembut, lautan rindu.  Laut adalah puisi yang tak pernah usai,  ditulis alam dengan gemulai,  dipersembahkan pada jiwa yang haus akan keindahan.  Laut membisikkan cerita yang kini terlalu jauh.  Ia membawa kita pulang,  pada kisah yang lambat laun menjadi usang.  Dalam gemuruhnya, ada kehidupan yang bersemi.  Dalam tenangnya, ada kedamaian yang merayu.  Menyapa hati yang rindu, menari dengan angin yang berbisik.  Di dalam deburan ombak, aku menemukan kebebasan yang tak terbatas. Laut adalah pelukan alam yang membebaskan jiwa.