Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

mata hati

Hembusan angin yang begitu menyejukkan,  membawa suasana syahdu yang mengharukan.  Aku begitu rapuh. Aku hanya bisa duduk bersimpuh.  Kala aku hanya bisa menyaksikan,  begitu banyak kejadian yang mengikis kebenaran.  Hanya bisa diam terikat.  Hanya bisa berdiam diri tanpa aksi.  Semenyedihkan ini menjadi manusia yang lemah tak berisi.  Menjadi insan yang tak mampu menguatkan iman.  Menjadi objek mainan setan.  Sungguh,  Aku tak kuasa menahan sesak. Memandangi dunia yang mulai rusak.  Tetesan cairan mata yang mengalir tanpa aba aba, membuat hati merasa iba.  Berilah cahaya pada jiwa ini,  berilah cahaya pada penglihatan ini,  agar aku bisa melihat dan merasakan bahagia yang hakiki.  Aku sandarkan urusanku padamu,  yang segala mustahil tak berpengaruh padamu.  Aku berikan segalanya untuk mendapatkan bahagiamu.  —catatan kecil, hamba lemah. 

Bingung

 Di persimpangan jalan, hati mulai kebingungan serta—kesepian. Antara maju atau mundur, memandangi rencana tak terstruktur. Langkah terhenti di ambang keputusan. Di hadapkan ketidakpastian, jiwa terperangkap kebingungan. Di tengah kemelut pikiran yang kacau, dua pilihan menari dikepala bersama risau. Maju membawa risiko yang belum terukur, Mundur terasa aman, namun juga takut tersungkur. Namun di antara kebingungan, ada kekuatan, Untuk menghadapi tantangan. Maju dengan keyakinan, atau mundur dengan kebijaksanaan. Keputusan ada di tangan, jalan yang diambil adalah pilihan.

Ada yang hilang

Diantara hembusan angin yang berisik, kita mencari hal - hal tak berfisik.  Merasa ada yang hilang, dibawah langit yang luas.  Menghampiri pikir kita dalam bayang bayang yang melintas. Kisah yang terlupakan, mimpi yang sirna, menjadi pusaka nostalgia yang terpendam.  Kita mencari, kita merindu, namun tetap terdiam.  Di dalam hening, kita merenung dan bertanya, Menggali rahasia, mencari jawaban yang tersembunyi. Mungkin yang hilang adalah bagian dari kita sendiri. Atau mungkin,  Yang hilang adalah cerita yang belum terlafalkan. Menyusuri jejak-jejak yang terlupakan.  Setiap detik yang berlalu kita teliti.  Dan mengajarkan kita tentang arti kehidupan sejati.

Rumah tak bertuah

 Suasana rumah tak bertuah. Burung-burung berkicau,  aku dengarkan dalam kondisi kacau.  Kupu-kupu beterbangan,  aku pandangi sembari mengingat kenangan.  Ada apa hari ini?  Semua terasa begitu penuh kontroversi. Mulut kelu, mata sendu dan hati merindu. Sungguh, perasaan ini akan jadi perasaan yang paling kubenci.  Karenanya aku lupa akan tidurku, karenanya aku lupa akan hal - hal penting di hidupku.  Kali ini aku temukan makna lebih. Makna tentang hal-hal kecil yang membuat kita resah serta—lelah.  Kamu tahu?  Sebenarnya aku sebatas merindu, sebatas ingin merasakan hal indah yang pernah terjadi dahulu.  Kamu tahu?  Apa yang aku rasakan saat kenangan berlarian di kepalaku?  Sakit, sungguh sakit.  Bukan karna kenangannya yang buruk, namun kurasa ini takkan bisa terulang untuk kedua kalinya.  Harapanku pada tuhan,  beri aku kesempatan kedua kalinya. Aku akan berikan semua waktu, hatiku dan kisahku yang tak sem...

Diam

Ketenangan dalam keheningan.  Kau tau?  Diam mu memberikan makna yang mendalam untuk mereka yang faham.  Merenung dalam kesendirian,  menemukan keindahan bahkan kehidupan yang tak akan dapat diucapkan oleh lisan. Kau menyelami lautan pikiran, kau temukan ketenangan yang beriringan dengan kebijaksanaan. Menjelajahi jiwa, menemukan makna.  Tak banyak berbicara,  namun kata yang di ucap selalu penuh akan makna. Di tengah keramaian,  Kau mungkin terabaikan.  Namun dalam hati, kau jadi sang mentari.  Memberi hidup pada tiap-tiap hati yang redup.  Menyimak alam,  mencipta karya tanpa suara.

Laut

Di tepian pantai, dibawah langit yang membiru.  Laut yang lembut, lautan rindu.  Laut adalah puisi yang tak pernah usai,  ditulis alam dengan gemulai,  dipersembahkan pada jiwa yang haus akan keindahan.  Laut membisikkan cerita yang kini terlalu jauh.  Ia membawa kita pulang,  pada kisah yang lambat laun menjadi usang.  Dalam gemuruhnya, ada kehidupan yang bersemi.  Dalam tenangnya, ada kedamaian yang merayu.  Menyapa hati yang rindu, menari dengan angin yang berbisik.  Di dalam deburan ombak, aku menemukan kebebasan yang tak terbatas. Laut adalah pelukan alam yang membebaskan jiwa.

Perjalanan menyembuhkan luka

 Entah redaksi apalagi yang perlu kutulis dalam semua sajak ini.  Semua berisi tentang luka, luka dan luka.  Seperti dirimu yang sangat terluka.  Apalagi yang kau cari saat ini?  Penyesalan, merasa sendirian, atau rasa malu yang tak kunjung hilang?. Untuk apa kau mengemis untuk diterima, semua penerimaan tak bisa dipaksakan. Mereka yang mengerti kamu, takkan membiarkanmu mati di telan kesedihan.  Dan mereka yang tak menyukaimu, takkan peduli perubahan apa yang kau lakukan.  Kebaikan yang kau lakukan dahulu.  Akan kalah dengan keburukan yang kadang kala hanya sebuah fitnah belaka. Cukupi semua itu-! Telan sedihmu, tunjukkan perubahanmu.  Abaikan segala yang menjadi penghambatmu.  Dirimu lebih berharga daripada cibiran mereka. Dirimu lebih bernilai daripada gunjingan mereka.  Perjalanan ini masih panjang, jangan sia-siakan hanya dengan memakan omongan tak penting belaka. 

Kamu

 3 bulan berlalu,  Tapi pikirku masih saja tentangmu.  Entah perasaan apa lagi yang aku rasakan setelah kepergianmu.  Kerinduan yang tak ter-prosa-kan.  Cinta yang tak karuan.  Begitu amat menyakitkan.  Ingatan akan semua kenangan.  Tiap harinya berlalu— lalang dikepala.  Memberi harap-harap akan kembalinya kita bersama.  Apa aku akan jadi zaenudin yang menggula akan hayatinya?  Atau kita menjadi isa dan bella yang hidup dan mati berjanji untuk bersama?  Kini harapku satu,  Yaitu—kembali bersamamu,  Menyatukan aku—kamu jadi kita seperti dulu. 

Perjalanan Renjana

Kini tiba pada akhirnya,  Kita sama sama lelah—pasrah.   Aku pernah mencoba berlari tanpa henti, tertatih hingga letih, Tidak peduli dengan sekitar, mengutamakan egoku yang habis ditelan sabar.  tapi sekarang aku menyadari bahwa aku membenci segala hal yang terjadi.  Karenanya aku belajar Hingga akhirnya waktu membuat ku tersadar. Sumpah, aku sudah ikhlas dengan semua usaha yang tidak lagi kuremehkan. Dengan semua harapan yang tidak lagi kutinggikan. Dengan segala doa yang terus menerus aku panjatkan. Aku ingin menjalani hari dengan tidak peduli apa yang menjadi ekspetasi, sampai aku menyadari nantinya saat ku menoleh ke belakang, ternyata aku telah berlari jauh dari yang kuperkirakan.  Tak ada lagi kata romantis, yang tersisa hanyalah egois. Apa memang sudah saatnya berhenti, atau sebenarnya perasaan tengah mati suri?